Entri Populer

Selasa, 30 November 2010

TEORI KLASIK DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

TEORI KLASIK DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Oleh: Imam Asngari
1. Merkantilisme
Perdagangan saat ini dipelopori oleh kaum merkantilis. Kaum merkantilis lahir dari masyarakat pasar. Masyarakat pasar inilah yang berhasil meruntuhkan sistem feodalisme dan kelompok ortodoks di bawah hegemoni agama. Perkembangan masyarakat pasar seiirng dengan pesatnya jumlah penduduk dan berkembangnya kota-kota di Eropa Barat.
Perkembangan kota membutuhkan dukungan berkembanya berbagai aktivitas antar sektor ekonomi, antar pedagang dan penguasa untuk menegakkan negara nasional yang kuat. Negara nasional yang kuat harus didukung oleh angkatan bersenjata yang tangguh. Konsep negara nasional yang kuat merupakan awal munculnya masyarakat kapitalisme. Kapitalisme di sektor perdagangan dilandasi oleh kerja sama yang kuat antara penguasa dan pedagang. Faktor lainya, ditemukannya daerah-daerah baru di luar Eropa.
Kaum kapitalis membutuhkan faktor produksi yang murah dan pasar bagi produk industri Eropa di daerah baru yang mereka temukan. Berkembanglah perusahaan dagang seperti; The Merchant Adventures, The Eastland Company, The Muscovery Company, The East India Company, VOC, dll. Perusahaan inilah yang mengeruk keuntungan maksimum melalui monopoli yang kemudian menimbulkan kolonialisme. Kapitalisme dan kolonialisme merupakan saudara kandung yang lahir dari perut masyarakat pasar. Kepentingan dagang akhirnya menjadi kepentingan negara pula. Pemikir dan negarawan masa itu berpendapat untuk membentuk negara yang kuat perlu kebijakan ekonomi yang dapat menjamin kerjasama saling menguntungkan antara penguasa dan pedagang dalam kerangka menegakkan negara nasional yang kuat. Kebijakan inilah yang
kemudian dinamakan merkantilisme murni.

2. Bullionist
Kaum bullionist merupakan kaum merkantilis yang memiliki pandangan atau visinya lebih tegas. Menurutnya, kemakmuran negara dicapai dengan peningkatan pemilikan logam mulia. Stok logam mulia harus dipertahankan di dalam negeri. Menjual barang/jasa ke luar negeri (ekspor) selalu lebih baik dari pada membeli barang dari luar negeri (impor). Kebijakan ekonomi yang dibuat bertujuan meningkatkan surplus ekspor (x>m). Surplus ekspor akan dibayar dengan logam mulia (uang emas), sehingga dapat menumpuk logam mulia. Kebijakan ekonomi di dalam negeri memberikan subsidi kepada industri barangbarang ekspor dan membatasi impor. Ekspor bahan mentah dilarang agar harganya murah di dalam negeri, sehingga dapat menjamin industri dalam negeri dan industri barangbarang ekspor. Ekspor barang modal dan emigran tenaga teknisi yang terampil dilarang agar industri ekspornya tidak disaingi oleh negara lain. Eropa pada abad pertengahan ini sejak awal sudah mulai menerapkan kebijakan industrialisasi promosi ekspor. Impor dibatasi dengan kebijakan tarif dan kuota. Impor barang yang dapat diproduksi lebih murah di dalam negeri dilarang guna menjamin neraca perdagangan yang menguntungkan.

3. Price-Specie Flow Mecanism
(Mekanisme Aliran Logam Mulia-Harga)
David Hume dalam teorinya ini berpendapat bahwa usaha menumpuk logam mulia melalui surplus ekspor tidak akan berhasil. Oleh karena surplus ekspor harus dibayar dengan logam mulia, dapat menimbulkan kenaikan dalam jumlah uang beredar (JUB) yang  langsung akan mendorong naiknya harga barang dan jasa sebagaimana teori John Lock. Akibatnya, justru surplus impor yang akan terjadi dan logam mulia mengalir ke luar. Dengan mekanisme aliran logam mulia dan harga ini neraca perdagangan yang menguntungkan tidak mungkin dapat dipertahankan terus-menerus. Mekanisme penyesuaian neraca perdagangan yang otomatis inilah yang dikenal sebagai price-spesie flow mechanism.
 
4. Kritik Adam Smith
Adam Smith (1776) merupakan tokoh utama pendukung klasik. Adam Smith mengkritik merkantilisme mengenai batasan kemakmuran (wealth), doktrin pembinaan negara nasional yang kuat, dan ide menumpuk logam mulia terus-menerus melalui kesinambungan surplus ekspor. Adam Smith menyatakan bahwa ukuran kemakmuran suatu negara/bngsa tidaklah terletak pada banyaknya logam mulia, tetapi pada banyaknya barang-barang yang dimilikinya. Negara yang makmur adalah negara yang mengembangkan produk barang dan jasa melalui perdagangan, dan bukan suatu negara yang harus menghambat perdagangan semata-mata untuk dapat menumpuk logam mulia. Adam Smith juga mengkritik campur tangan pemerintah yang ditujukan untuk membentuk negara yang kuat. Kemakmuran dan kekayaan hanya dapat dicapai dengan menjalankan prinsip laissez-faire di dalam negeri dan prinsip perdagangan bebas dengan negara lain. Menurut Adam Smith tugas pemerintah adalah dibidang pertahanan, penegakan hukum dan keadilan dalam negeri, dan membangun sarana publik serta melaksankan pekerjaan umum yang tidak mungkin dilaksanakan swasata.

5. Absolut Advantage
Adam Smith mengemukakan idenya tentang pembagian kerja internasional yang membawa pengaruh besar bagi perluasan barang-barang negara tersebut serta akibatnya yang berupa spesialisasi internasional.
Spesialisasi internasional dapat memberikan hasil berupa manfaat perdagangan (gains of trade) yang dapat timbul dalam atau berupa kenaikan produksi serta konsumsi barang-barang dan jasa. Perdagangan internasional didorong untuk melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang yang mempunyai keuntungan mutlak (absolut advantage). Keuntungan mutlak diartikan sebagai keuntungan yang dinyatakan dengan banyaknya jam/hari kerja yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang tersebut. Keuntungan ini akan diperoleh apabila masing-masing negara mampu memproduksikan barang-barang tertentu dengan jam/hari kerja yang lebih sedikit dibandingkan dengan seandainya barang-barang itu dibuat oleh negara lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar